CianjurNEWS(6/3) Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Leles Cianjur selatan Ade Kamal Mustofa berjanji terus berusaha meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) bidang pendidikan di kecamatan itu. 


Ade sangat mengharapkan berbagai masukan dari masyarakat guna perbaikan pendidikan. Dia menilai IPM bidang pendidikan, terutama menekan jumlah drop out (DO) atau putus sekolah dan meningkatkan wajib belajar 9 tahun di Kecamatan Leles cukup berhasil.

Dalam upaya perbaikan kinerja aparat, Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Leles telah melakukan pembinaan kepada staf internal dinas maupun para pendidik.


"Saya bertekad untuk lebih memajukan dunia pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Cianjur yakni lebih cerdas, sehat, sejahtera, dan berakhlakulkarimah," janjinya seperti diungkapkan kepada Radar, kemarin.


Ade mengaku masih memiliki keterbatasan namun usaha itu terus dilakukan. Disinggung soal penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS), Ade menjelaskan hal itu telah sesuai mekanisme petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis). 


Kemudian merujuk surat edaran Kepala Dinas P dan K dan Ketua Program BOS Kabupaten Cianjur, setiap penyaluran dana BOS tidak boleh ada intervensi pihak manapun. “Terkait penjualan buku telah ada kesepakatan pihak sekolah yang diketahui kepala sekolah, panitia pembelian buku, serta komite sekolah,” ujar Ade.


Ade selanjutnya menyesalkan opini yang berkembang di beberapa media cetak yang terkesan menyudutkan dirinya terkait intervensi soal BOS juga dana operasional kantor yang turun setiap triwulan sekali dari Dinas P dan K Kabupaten Cianjur.

"Pemberitaan itu sempat membuat saya kecewa. Namun, kritikan sudah saya klarifikasi. Bukan tidak mau dikritik namun yang saya harapkan kritikan itu sifatnya membangun dan tidak sepihak," kilahnya.

KESENJANGAN jumlah guru yang bertugas di Cianjur selatan (Cisel) dan utara, agaknya menjadi masalah klasik. Sejak dulu program atau kebijakan yang mengarah pada pemerataan selalu digulirkan, namun faktanya tak pernah berubah. Jumlah guru yang bertugas terkonsentrasi di Cianjur utara, sedangkan di Cisel tetap kekurangan. Padahal dari aspek geografis, luas wilayah Cisel 2/3 dari Kab. Cianjur.

Pada penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemkab Cianjur yang akan diseleksi 10 Desember 2008 mendatang pun diprioritaskan untuk tenaga guru yang akan ditugaskan di Cisel. Masing-masing 200 untuk guru SD, 55 guru SMP, 24 guru SMA, dan 42 untuk guru SMK atau total 321 guru. "Sekira 90% guru ini akan ditugaskan di Cianjur selatan," kata Sekda Kab. Cianjur, Maskana Sumitra, di ruang kerjanya, pekan lalu.

Namun, apakah kebijakan prioritas untuk ditempatkan di Cisel ini akan mengurangi kekurangan guru di sana, menurut anggota Komisi I DPRD Kab. Cianjur, Muhammad Toha, belum tentu juga. "Sejujurnya saya tidak yakin kebijakan seperti itu akan mengurangi kesenjangan jumlah guru Cisel dan utara jika kebijakan itu tidak dikawal lebih lanjut," ungkap Toha, di ruang kerjanya, Jumat (21/11).

Sebenarnya, lanjut legislator dari Partai Bulan Bintang (PBB) ini, pola distrik pada penerimaan guru CPNS patut dipertimbangkan. Artinya, pelamar yang berdomisili di kecamatan yang kekurangan guru diprioritaskan. Dengan begitu, ketika mereka ditugaskan di kecamatan bersangkutan akan kerasan. Berbeda dengan guru yang semula berdomisili di Cianjur utara akan terasa berat jika ditugaskan di pelosok Cisel.

Sayangnya, pola distrik seperti ini pun bukanlah jaminan. Seringkali pasca diangkat menjadi guru CPNS atau PNS mereka ini berupaya pindah tugas ke perkotaan. Pernyataan siap ditempatkan di mana saja yang ditandatanganinya di atas materai saat melamar dianggapnya angin lalu. "Hasilnya, wilayah Cisel terus-terusan kekurangan guru," ujarnya.

Diakui Wakil Bupati Cianjur, Dadang Sufianto, pada umumnya mereka yang berdomisili di Cisel pun enggan bertugas di kampung halamannya. Mereka ngotot dan kasak-kusuk ingin berpindah tugas ke wilayah Cianjur utara. "Manusiawi sekali kalau guru yang berdomisili di Cianjur utara keberatan tugas di pelosok Cisel ini guru yang berdomisili di sana pun ingin pindah tugas ke Cianjur utara," kata Dadang pada seminar "Anggaran Pendidikan 20% Prospek terhadap Profesionalitas dan Kesejahteraan Guru" di Gedung Guru Indonesia (GGI) Cianjur, Sabtu (15/11).

Padahal, jelasnya, bertugas di Cisel pun sama saja. Malah secara ekonomi bisa lebih menguntungkan kalau guru bersangkutan kreatif dan memiliki keterampilan atau skill untuk membudidayakan potensi komoditas lokal, seperti pisang atau gula aren. Bahkan, keterampilan yang dimilikinya ini bisa ditransper kepada siswa untuk belajar berwirausaha jika kelak siswa bersangkutan tidak melanjutkan sekolahnya.

Kurang guru

Kuota guru yang dialokasikan untuk Kab. Cianjur tahun 2008 ini masih minim dibandingkan kebutuhan. Jatah guru CPNS belum mampu memenuhi kebutuhan guru, terutama untuk wilayah Cisel. Sebab, kebutuhan guru SD saja 5 ribu orang. "Paling dibutuhan adalah guru SD untuk ditempatkan di pelosok Cisel, ditambah sebagian untuk wilayah utara, seperti di pinggiran Kec. Cikalongkulon dan Kec. Sukaresmi," ujar Kepala Staf Bagian Kepegawaian Dinas Pendidikan & Kebudayaan (P&K) Kab. Cianjur, Undang Sabas, di ruang kerjanya, Jumat (21/11).

Minimnya jumlah guru di Cisel amat memprihatinkan. Dari total 1.200 SD di Kab. Cianjur, di Cisel banyak SD yang hanya dikelola seorang kepala sekolah dan seorang guru. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan siswa, kepala sekolah ini merangkap menjadi guru. Kedua pendidik ini harus pontang-panting mengajar siswa di enam kelas. Kondisi seperti ini tentu saja sangat ironis jika dilihat dari anggaran pendidikan yang terus-terusan bertambah setiap tahunnya.

Ia menyatakan, banyak guru yang ingin pindah ke wilayah perkotaan atau Cianjur utara, termasuk mereka yang semula berdomisili di Cisel. Untuk meminimalisasi, pihaknya merasa kesulitan sekaitan permohonan mutasi menjadi hak seseorang, terlebih sejak diberlakukannya otonomi daerah (otda) ada ketidakjelasan masa kerja sebagai prasyarat mutasi.

"Sebelum otda prasyarat mutasi minimal 5 tahun masa kerja, itu pun baru dipertimbangkan pemerintah, bukan dikabulkan. Namun, sekarang belum jelas masa kerjanya. Mungkin ini yang menjadi alasan mereka mutasi," ujarnya.

Pengangkatan CPNS maupun tenaga guru honorer dengan prioritas untuk Cisel, menurut Sekretaris Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Pemkab Cianjur, Hilman Kurnia, merupakan salah satu upaya untuk menutupi kekurangan guru di Cisel. Namun yang lebih penting, institusi yang berwenang yakni Dinas P&K harus memperketat permohonan mutasi. Tidak mengabulkan begitu saja setiap permohonan yang datang, terlebih tanpa alasan jelas.

"Justru yang lebih utama adalah pengetatan mutasi guru dari Cisel ke Cianjur utara kendati mutasi adalah hak seseorang. Hal ini penting agar jumlah guru yang bertugas di sana tidak melorot. Kalau setiap permohonan dikabulkan, ya tentu saja selamanya Cisel kekurangan guru," ucapnya.

Diakuinya kebijakan mutasi guru menjadi kewenangan dinas bersangkutan. Hal ini di dasarkan Surat Keputusan Bupati No. 04/2002 tentang Pendelegasian sebagian wewenang bupati kepada para pejabat di lingkungan pemkab di bidang kepegawaian.

Menyangkut kebijakan memprioritaskan pelamar guru CPNS dari kecamatan yang kekurangan guru, dijelaskannya, sulit dilakukan. Alasannya, berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 43/1999 tentang Rekruitmen CPNS diperuntukkan bagi setiap warga negara. Sama sekali dilarang memberikan prioritas yang didasarkan atas domisili di kecamatan tertentu meskipun dengan tujuan memenuhi kebutuhan guru di daerah atau kecamatan bersangkutan. Siapa pun diperbolehkan mengikuti seleksi dan hasilnya tergantung seleksi itu.

"Kalaupun ada kebijakan prioritas untuk Cisel, itu di luar mekanisme seleksi. Artinya, kalau mereka lulus akan ditempatkan di sana. Jadi bukan berarti memberikan kemudahan, apalagi jaminan lulus bagi warga yang berdomisili di kecamatan yang kekurangan guru," ujarnya.

Jumlah guru di Kab. Cianjur saat ini 19.380 orang, terdiri dari guru SD 13.669 orang, MI 20 orang, SMP 3.183 orang, MTs 28 orang, SMA 956 orang, dan SMK 991 orang serta 1 orang guru SLB. Dari jumlah ini, 8.045 guru bertugas di Cisel. Dengan 8.045 guru Cisel masih banyak memerlukan tenaga pendidik sekaitan jumlah rombongan belajar (rombel)-nya sangat banyak. (PK-4)***

Sumber : Pikiran Rakyat

Langganan: Entri (Atom)